Blogging, Social Issues

Sekarang Zamannya Micro Blogging??

Holla Moms..

Ketemu lagi setelah lumayan lama tak bersua yaa.. hihi..

Saya pengen membuat pengakuan kenapa akhir-akhir ini saya jarang nulis di blog.

Sebenernya kalo di blog saya memang nggak begitu rajin nulis, emang dasarnya males, hihihi.. dan pengen lebih fokus ke keluarga, tapi selain itu karena baru-baru ini saya habis baca artikel mengenai trend dunia per bloggingan di salah satu artikel luar negeri yang saya temukan di pinterest.

Ini salah satu pendapat blogger luar negeri. Menurutnya IG adalah platform yg plg bnyk digunakan sbg sarana microblogging
Msh mnrt blogger yg sama spt sblmnya, personal blog itu udah mulai ditinggalkan, buat kmu yg baru mau mulai mending pikirkan lg, klo g bawa bnyk manfaat utk org laen blogmu g bkl laki, katanya lho ya, bkn kataku.. 😁

Di artikel tersebut intinya trend masa kini adalah micro blogging, apalagi sejak diluncurkannya fitur-fitur semacam IG stories, WA Status, para blogger atau influencer di negara barat banyak yang memanfaatkan fitur tersebut untuk menyampaikan informasi kepada para followernya karena membaca tulisan dengan jumlah kata yang cukup banyak dalam suatu waktu itu dirasa membosankan, oleh karena itu mereka memasukkan informasi yang ingin disampaikan dalam bentuk IG stories, baik itu tulisan yang terpotong-potong sesuai durasi, foto dengan keterangan maupun video.

Menurut mereka cara yang saya sampaikan di atas tersebut dinamakan sebagai micro blogging dan masih menurut mereka, follower atau subscriber mereka lebih menyukai cara penyampaian informasi yang baru ini.

Msh mnrt blogger yg sama, Sponsored post diprediksi bkl sepi krn calon customers makin pinter, g mau baca / liat review yg fake. Itu kah sebabnya thn ini job blogger jd sepi?

Well, saya tidak bermaksud mencari pembenaran bahwa seorang blogger tidak perlu menulis di blog lagi lho yaa.. tapi sebagai seorang blogger yang selalu berhubungan dengan teknologi dan perkembangannya berarti kita juga harus mau membuka diri dengan perkembangan baru ini, tidak serta merta meninggalkan kebiasaan kita yang menulis panjang lebar di blog tapi bisa juga kita selang-seling dengan micro blogging di medsos kita.

Kalau saya biasanya artikel-artikel panjang saya yang dulu-dulu saya tampilkan lagi sepotong-sepotong dalam bentuk screen shoot begitu lalu saya masukkan ke IG stories sambil saya beri link artikel lengkapnya, kadang saya tambahkan dengan keterangan tambahan mengenai artikel saya tadi, saya tambahkan polling sehingga ada interaksi langsung dengan follower saya, terkadang jika butuh info tambahan berupa foto / video juga saya masukkan ke IG stories tersebut.

Sedangkan untuk artikel yang akan saya buat biasanya saya juga membuat semacam ‘preambule’ yang intinya woro-woro bahwa saya akan membuat artikel mengenai sesuatu hal, saya beri sedikit bocoran kira-kira isinya apa, bocorannya bisa berupa foto atau video tapi tidak saya buat lengkap, kalau mau lengkap mereka harus klik link blog / vlog saya.

Micro v/blogging ini tidak hanya dapat dilakukan di IG saja, tetapi platform medsos yang lain, saya melakukannya juga di FB dan WA.

Akhirnya micro blogging dan blogging konvensional dapat saling melengkapi, membuat follower medsos kita bertambah dari yang awalnya mereka hanya sekedar pembaca blog atau sebaliknya yang awalnya hanya teman di medsos jadi tau kalau kita suka ngeblog, jadi ngintip blog kita dan siapa tau subscribe juga untuk jadi pembaca setia kita.

Itu aja sih yang saya mau bagi kali ini, tentang sinergi antara blogging konvensional dan micro blogging.

Kalau penge tau bentuk micro bloggingku, bisa lihat di Highlight Igku seperti yang berjudul “Budgeting Plan”, “Hidroponik” atau “Puro Clinic”

Budgeting plan IG Highlight Stories
Hidroponik IG Highlight Stories
Puro Clinic IG Highlight Stories

Oke, saya akhiri di sini ya, buat temen-temen blogger yang baca ini tolong jangan baper, kalau ada yang kurang berkenan mohon dimaafkan, mari kita ambil yang positifnya saja agar kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Stay Ketje dan sampai ketemu di artikel selanjutnyaa..

@annelesmana

Share it please, mama ketje.. 🙂Pin on Pinterest
Pinterest
0Share on Facebook
Facebook
4Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Share on Tumblr
Tumblr
0

8 Comments

  1. Kalo aku kadang masih kurang telaten sih microblogging dan share di medsos. Tapi kadang karena aku juga kadang-kadang males ngeblog, jadi aku nulis dulu status di fb trus nanti kalo ada waktu baru diperbaiki dan dipanjangin lagi kata-katanya lalu dipindah ke blog. Dan itu jadinya lebih mudah. Emang gak bisa dipungkiri lebih banyak org yang lebih suka baca postingan di medsos timbang langsung di blog.

    1. Iya ya.. Klo org awam kyana lbh sng baca d medsos lgsg ya mbak drpd di blog. Mgkn krn aq blom jd blogger hits kali yaa..

  2. Menurut saya, macro blogging dan micro blogging punya pangsa penonton yang berbeda.

    Artikel-artikel pro-microblogger di atas sebetulnya merujuk pada pangsa penonton yang memang cenderung lebih menyukai artikel pendek (sebisa mungkin kurang dari 80 kata), sebab penonton jenis ini memang punya waktu yang sangat pendek untuk bertahan membaca suatu konten.

    Macro blogging tidak ditujukan kepada penonton jenis ini.
    Pangsa penonton dari macro blogging adalah jenis penonton yang punya waktu luang untuk membaca konten DAN berniat untuk mencari konten yang memuat informasi spesifik yang mereka butuhkan.

    Jadi lebih bijaksana kalau kita melihat macro blogging dan micro blogging dari sudut kepentingan mereka.

    Dan blogger yang memang serius mendalami bloggingnya, memang punya ambisi ingin memenuhi kepentingan pembaca mereka tentang informasi spesifik itu. Informasi seperti ini tidak bisa dijelaskan secara jamblang dalam Instastories atau Video, karena:
    1) Instastories punya durasi memori yang sangat pendek, cuma 15 detik, sulit disimpan di benak penonton untuk jangka panjang, sulit disimpan di cellphone.
    2) Video punya data byte yang sangat besar, cukup makan resource kalau disimpan di cellphone atau bahkan disimpan di kolom Favourite YouTube-nya audiens (kalau memang mereka iseng mau nyimpen).

    Blogger memang sebaiknya mempelajari microblogging dengan serius, karena manfaat microblogging adalah untuk menggaet penonton baru untuk blog mereka. Tapi jangan mengharapkan penonton baru ini akan jadi follower blog (bukan follower blogger) secara setia, karena memang penonton jenis ini tidak cocok untuk membaca blog.

    1. Setuju mbak.. Makasih udah share pendapatnya di sini

  3. Ga salah juga kalau pake micro blogging. Tergantung senyaman mana orang untuk mendapatkan atau memberi informasi.

    Hanya saja konten di mesin pencari harus diisi dengan konten-konten positif, sebelum diserang konten negatif yang generasi selanjutnya yang akan merasakan efeknya.

    So, selamat blogging dalam platform apapun…

    1. Betul. Harus yg positif, bermanfaat n tdk hoax.

  4. Tren microblogging emang lagi berkembang di luar sana. Karena jaman sekarang orang lebih suka baca tulisan yang singkat dan langsung pada tujuan. But, kembali lagi sih soal selera. Masih banyak kok di luaran sana yang masih lebih suka baca review di blog dan rata-rata masih mendominasi mesin pencaharian ketimbang video. Soal job sepi, emang kalau di awal tahub sampe bulan maret agak sepi karena brand baru menghabiskan dana di akhir tahub. Menjelang puasa biasanya rame

    1. Iya, kita kembalikan lg pada msg2 pembaca. Kabar2 ya klo ada job.. 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *