Family, Healthy Life, Social Issues

Sapihmoon dan doa memiliki anak lagi

 

Sudah sejak bulan Oktober saya dan suami berencana menyapih anak kedua kami, Evlan, ketika nanti dia sudah berusia 2 tahun pada bulan Desember. Sebenarnya saya masih nggak tega untuk menyapihnya mengingat beberapa bulan terakhir kemarin dia mulai susah makan, dia nggak suka makan nasi, saya pikir dengan masih ngASI maka gizinya dapat disubtitusi, tetapi setelah baca-baca, ASI semakin lama gizinya sudah banyak berkurang, tidak dapat memenuhi kebutuhan gizinya, akhirnya saya makin mantap akan menyapih si Evlan.

Kalau si Bapak sih pengen anaknya lebih mandiri, nggak dikit-dikit nempel aja sama mamanya. Gantian Bapaknya yang nempel gitu? #eh

Saya sempat baca-baca tentang proses penyapihan, macam-macam ya caranya. Sebisa mungkin sih pakai cara yang natural, oleh karena itu kami berencana menitipkan si kecil dan kakaknya sama eyang mami dan utinya seminggu, bergantian, sementara saya dan Bapaknya menikmati waktu berdua karena sudah hampir 6 tahun kami tidak pernah berlibur berdua saja, pengennya me-recharge pikiran dan hubungan kami kembali.

Sebelum hari yang kami tentukan tiba, saya sudah sounding ke Evlan kalau dia sudah harus mengurangi nenennya karena dia sudah mulai besar, saya mulai lakukan sounding itu kira-kira 2 bulan sebelum “Sapihmoon” yang kami rencanakan.

Sapihmoon.. haha.. iya ini istilah karangan saya, saya dapatnya dari salah satu teman FB saya waktu saya iseng melemparkan pertanyaan “kalau ada honeymoon liburan berdua suami setelah menikah, babymoon ketika masa-masa menunggu kelahiran anak, kalau waktunya nyapih apa namanya ya?”

Setelah menyiapkan ittenary, budget dll akhirnya waktu Sapihmoon tiba, kami berangkat bersama-sama ke Banyuwangi terlebih dahulu karena akan menitipkan anak-anak kepada nenek mereka dan lagipula karena kami memang berencana ke Bali, tempat tujuan Sapihmoon kami, dengan menggunakan mobil sendiri.

Semalam sebelum menyapih Evlan dia saya ajak berbicara lagi tetapi reaksinya tetap, kepalanya gedek-gedek menandakan dia tidak mau disapih. Terenyuh hati saya, nggak tega mau meninggalkan dia bersama kakek-neneknya untuk 5 hari kedepan walaupun juga masih ada pengasuhnya yang ikut menjaganya juga. Ini akan menjadi moment pertama kami berpisah untuk waktu yang cukup lama, karena belum pernah Evlan tidur malam tidak bersama mamanya.

Hari keberangkatan tiba, saya berpamitan kepada anak-anak sebenarnya tidak ada suatu yang berarti, dia bisa melepas kepergian saya seperti biasa mungkin dia mengira saya akan pergi untuk sebentar saja seperti biasanya.

Saya dan suami punya kesepakatan bahwa kami akan meminimalisir perbincangan kami mengenai anak dan pekerjaan, fokus hanya pada kami berdua dan jangan bertengkar selama perjalanan! Jadi saya menghubungi anak-anak hanya pada waktu-waktu tertentu dan hanya sekali dalam sehari.

Oke, di sini saya tidak akan bercerita detil mengenai pengalaman sapihmoon kemarin ya karena nanti akan saya buatkan thread tersendiri mengenai hal tersebut. Ditunggu ya..

Lalu apa hubungannya dengan doa memiliki anak lagi? Apakah tujuan dari sapihmoon ini sekalian untuk menambah anak lagi? Mungkin mams ada yang berpikiran seperti itu ya? Jawabannya TIDAK!

Saya dan suami tidak terpikir untuk menambah anak, setidaknya tidak dalam waktu dekat ini dan kalau boleh memilih memang kami memilih untuk membatasi memiliki dua orang anak saja. Bukan menolak rejeki, saya dan suami percaya bahwa anak itu adalah rejeki dan sudah diberi rejeki sendiri oleh Tuhan jadi tidak perlu takut / kuatir mengenai rejeki mereka nanti tetapi bukan itu yang membuat kami hanya membatasi jumlah anak.

Bagi kami dan mungkin disepakati banyak orang bahwa anak itu adalah amanah dan tanggung jawab yang sangat besar, yang harus dijaga dan dididik baik-baik agar menemukan fitrahnya dilahirkan di dunia ini, bermanfaat bagi sebesar-besarnya kepentingan umat, alam sekitarnya. Dengan amanah sebegitu besarnya saya harus  bisa mengukur kemampuan saya.

Bukan mau mengunder-estimate diri sendiri tetapi saya menyadari bahwa dengan karakteristik diri saya ini yang slebor, suka kebebasan, dan beberapa karakter negatif lainnya yang kurang cocok (menurut saya) dimiliki oleh seorang ibu maka saya tidak akan bisa maksmimal mendidik anak-anak saya.

Saya bilang begini bukan berarti saya tidak mencintai anak-anak saya dan merasa terbebani dengan kehadiran mereka, bukan, bukan saya tidak mencintai mereka, sangat mencintai bahkan..  tetapi saya merasa cinta saya cukup untuk mereka berdua saja, tidak bisa lebih karena saya harus membagi lagi cinta yang saya miliki untuk mencintai diri sendiri dan suami, dengan memiliki anak lagi maka akan semakin banyak cinta yang harus saya bagi yang berarti ada pengorbanan lagi yang harus saya lakukan untuknya dan itu yang saya rasa saya tidak mampu saya lakukan.

4 Tahun sejak memiliki anak saya merasa saya kurang mencintai diri sendiri, banyak yang harus dikorbankan, ya walaupun pengorbanan tersebut tidak akan pernah berhenti untuk anak-anak saya sampai kapanpun tapi setidaknya semakin mereka besar saya bisa sedikit demi sedikit ‘memiliki’ diri saya sendiri kembali.

Memiliki diri sendiri kembali itu seperti apa sih? Receh sih kalau mau dijabarkan tapi it means a lot to me, saya merasa ‘hidup’ jika memilki atau melakukannya, realnya seperti apa? Duh jadi malu sebenernya kalau mau dijabarin satu-satu, ya misalnya saya mulai bisa pakai baju model apa saja tanpa memikirkan lagi gimana anak saya lebih gampang nenennya, saya harus makan apa / kandungan makanan atau minuman apa saja yang harus saya hindari / konsumsi  supaya asupan gizi anak melalui ASI saya terpenuhi / terjaga, bisa tidur berdua saja bersama suami tanpa anak-anak, dll, mungkin bagi sebagian orang itu selfish, egois atau apalah tapi ya inilah saya.. saya tidak sehebat ibu-ibu yang lain yang sanggup memiliki banyak anak, yang mampu mengurus semua anak-anak itu sendiri, tanpa pengasuh, tanpa suami juga mungkin, yang rela mengorbankan semua yang mereka senangi tanpa mengeluh, yang rela mengorbankan apa saja demi anak-anak mereka, dan mungkin sampai lupa dengan diri mereka sendiri, saya salut pada mereka, tapi saya bukan mereka, saya punya keterbatasan.

Keterbatasan saya itu apabila saya paksakan maka bukan hanya menghancurkan diri saya sendiri tetapi orang-orang di sekitar saya termasuk anak dan suami saya. Ada yang bilang the heart of the family is a mother, kalau ibu senang maka seluruh keluarga akan senang, jika ibu bersedih maka semua akan sedih, dan saya rasa itu benar, akan berpengaruh pada seluruh anggota keluarga yang lain. Saya berusaha agar tetap happy dan waras agar keluarga saya juga happy.

Jadiii.. Duh panjang amat ya jadinya curhatan saya, buat mama-mama lain yang mendoakan saya ketika sapihmoon kemarin saya ucapkan terima kasih atas doanya, tetapi saya kembalikan lagi doa tersebut pada Anda semuanya sendiri, biar Anda saja yang punya anak lagi karena mungkin anda lebih sanggup memiliki anak lagi ketimbang saya.

Liburan berdua bareng suami tidak selalu dengan tujuan memiliki anak lagi, bukan hanya masalah sex saja, ya walaupun akhirnya banyak adegan itunya juga sih.. hehehe.. Tapi kemarin itu memang tujuannya lebih menjaga keintiman dan kewarasan kami berdua yang sehari-harinya hectic berkutat dengan anak-anak saja, bukannya nggak happy ya berada di dekat anak-anak kami, kami bahagia, sangat bahagia tapi kemarin kita butuh waktu berdua saja supaya ada rasa rindu yang lebih daripada biasanya kepada mereka, mengisi tangki cinta kita lagi sehingga cukup untuk memberikan cinta yang lebih ‘fresh’ lagi kepada mereka.

Jadii.. Please.. Nggak semua doa yang Anda anggap positif (ya walaupun mendoakan punya anak itu memang baik sih) itu akan sesuai dengan orang yang diberi doa. Kalau justru akan membebaninya apakah akan baik? Jadi kalau boleh saya sarankan cukup doakan acara liburan bersama pasangannya menyenangkan, urusan bakal jadi anak lagi atau tidak serahkan pada mereka berdua.

Saya jadi ingat kata seorang kolega expatriate saya waktu jaman saya kerja, waktu itu dia tau saya akan menikah dan karena dia sudah jauh lebih senior / tua dari saya dia mengatakan kepada saya bahwa jangan terburu-buru punya anak, punya anak itu butuh persiapan yang banyak, terutama mental. Dan sekarang saya tau bahwa apa yang dia katakan waktu itu benar, punya anak nggak semudah cuma sekedar bikin, hamil, melahirkan, but a far beyond that walaupun lahirinnya aja kayaknya udah susah banget ya, nggedein, ngerawat n ngedidiknya tu yang lebih berat lagi.

Dia  juga heran kenapa orang Asia utamanya orang Indonesia suka buru-buru punya anak setelah menikah, kalau habis nikah nggak cepet-cepet hamil kayaknya aib banget buat orang Indonesia, padahal kalau cuma pengen punya anak aja kan nggak harus nikah juga bisa, hehe.. ya itu pemikiran dia sih ya.. boleh setuju boleh nggak..

Oke segitu aja curhatan saya kali ini, buat yang ngerasa ya alhamdulillah kalau setelah baca ini jadi kerasa, but dont take it too personal karena jujur yang doain saya begitu nggak cuma 1 tapi buanyak, sampe ipar saya juga bilang gitu, ya mungkin cuma buat ngegodain aja sih, kalau seorang dua orang yang bilang gtu sih masih lucu, lha kalau banyak, udah nggak lucu lagi.. gerah iya..hehe..

Tapi semua sudah saya maafin, saya anggap cuma lucu-lucuan aja, maafin saya juga yang curhat begini, cuma supaya nggak nempel di otak saya mulu saya perlu tuangin di blog maka jadilah ini..

Nulisnya juga nunggu sampe yakin yang kemarin itu nggak jadi.. alias nunggu yakin datang bulan baru berani nulis ini, kalau nggak kan.. malu bo’.. hahaha..

Alhamdulillah saya masih dipercaya Allah mengurus 2 orang anak saja, terima kasih kepada pak dokter Pacitan yang sudah memasang KB spiral ke tubuh saya ini sehingga kekhawatiran saya tidak terjadi. Blom KB? Yuk ikut KB yuk, aman n tenang kalau udah pake KB.. yaelah malah jadi promosi KB.. hehe..

Oke, gitu dulu curhatan maljuman ini, nggak bisa melakukan salah satu ‘sunah rasul’ karena masih palang merah jadi larinya ngeblog sampe tengah malem. Hehehe..

Please dont get offended kalau ada salah-salah kata di postingan saya kali ini, saya tidak bermaksud menyudutkan pihak manapun, saya hanya mengutarakan perasaan saya. See you on my other article..

Stay Ketje,

Anne Lesmana

Share it please, mama ketje.. 🙂Pin on Pinterest
Pinterest
0Share on Facebook
Facebook
0Share on Google+
Google+
0Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Share on Tumblr
Tumblr
0

3 Comments

  1. enpistas

    thank you for your transparency! It is life giving.

  2. Jauh amat mbak KBnya sampe ke Pacitan. 😬
    Oya yang penting juga rajin di kontrol juga KBnya, soalnya pengalaman temen pake KB spiral pun tetep bisa jebol dan ternyata dia nggak rutin kontrol. Semoga one day, aku juga bisa pergi b2 aja sama suami gak usah nunggu sampe anak2 gede dulu, sepertinya menyenangkan.

  3. Maaaakkk.. pake KB apa maaakk???

    Hahaha.. larinya malah ke KB ya..

    Eniwei, sometimes… kita emang kudu memperhatikan diri kita sendiri, Ne. Biar happy, biar ndak stress. Biar bisa membesarkan anak2 dan keluarga dengan bahagia.

    Bener itu.. bener banget!

    Selamat ya Anne yang uda berhasil nyapih via (salah satunya) sapihmoon.

    Aq masih otewe jauh ini… hahaha…

    Enjoy your life journey 😙😙

Leave a Reply

Required fields are marked*