Social Issues

Cerita mengurus surat KTP sementara secara cepat – 1 hari jadi!

courtesy: sultranews.com

SIM saya sudah mati hampir setahun yang lalu, karena saya sedang tinggal di kota lain dan kurang informasi makanya saya nggak urus perpanjangan SIM dan akhirnya bikin repot diri sendiri.

Nah karena sekarang saya sudah tinggal di Pandaan-Pasuruan sudah dekat dengan alamat KTP saya di Surabaya jadi saya ingin mengurus SIM tersebut tapi ternyata oh ternyata.. saya sudah tidak dapat memperpanjang karena sudah melewati batas waktu, oleh karena itu saya diwajibkan untuk bikin SIM baru lagi.

Salah satu syarat untuk membuat SIM adalah adanya KTP, padahal KTP saya adalah KTP lama yang belum e-KTP, saya awalnya cuek saja membawa KTP tersebut karena biasanya kalau sedang mengurus ke Bank atau untuk urusan yang lain masih diterima eh kali ini beda, mereka tidak mau menerima KTP lama saya, saya diminta untuk membuat e-KTP.. duh kok makin ribet ya..

Syarat tersebut harus dipenuhi, oleh sebab itu saya segera menghubungi salah satu kecamatan di Surabaya Selatan tempat dimana seharusnya 3 tahun yang lalu saya mengambil e-KTP saya, saya berpikir mungkin e-KTP saya masih tersimpan di sana, akhirnya saya menghubungi mereka lewat no telp:  petugas yang menjawab telepon saya menjelaskan bahwa jika sudah 3 tahun maka e-KTP tersebut sudah ditarik tidak disimpan oleh pihak kecamatan dan oleh karena itu saya tetap harus mengajukan pembuatan e-KTP baru.

Syarat untuk membuat e-KTP baru tersebut hanyalah foto kopi KK dan 2 lembar foto 3×4

Setelah mengetahui syarat-syaratnya saya langsung meluncur ke Surabaya dengan membawa syarat tersebut.

Singkat cerita setelah sampai di sana saya langsung diterima oleh petugas, saya mengatakan maksud saya, lalu saya dimintai syarat-syarat tersebut.

Dalam proses di awal tersebut saya ditanya oleh petugas, apakah ada alasan khusus sehingga saya baru mengurus e-KTP tersebut, saya jelaskan kepada petugas bahwa saya perlu e-KTP untuk membuat SIM, lalu petugas menawari saya apakah saya mau dibuatkan surat keterangan KTP sementara yang bisa langsung jadi hari ini karena menurut petugas waktu yang diperlukan untuk pembuatan surat tersebut adalah 3-4 hari kerja, saya langsung menyanggupinya karena saya memang membutuhkannya segera. Lalu diakhir percakapan kami sebelum petugas masuk ke suatu ruangan dia mengatakan “Nanti jangan lupa memasukkan uang palang merahnya”

“Oh iya pak, siap!” jawab saya

Saya malu sebenarnya cerita seperti ini padahal baru beberapa minggu yang lalu saya mengikuti  seminar mengenai Revolusi Mental, praktek-praktek seperti inilah yang sebenarnya yang ingin ditiadakan dengan adanya Revolusi Mental, eh setelah dapat seminar, saya malah jadi salah satu pelakunya.. *hiks

Tapi tujuan saya bercerita di sini ingin menunjukkan bahwa praktek-praktek seperti ini masih ada, bahkan di Surabaya sekalipun yang dipimpin oleh walikota yang tegas, yaitu bu Risma ternyata masih ada petugas yang bermental seperti itu. Bagaimana dengan saya? Saya jujur saja, memang ingin cepat jadi karena daripada kehilangan waktu dan bensin untuk kembali lagi melakukan perjalanan Pandaan-Surabaya, tetapi aslinya saya mau mengikuti prosedur yang seharusnya jika tidak tahu ada jalan ‘belakang’ tetapi karena ditawari maka lain ceritanya.. yah, mungkin begitulah sifat manusia.. eh, sifat saya sebenarnya.. hehe..

Lanjut ya..

Setelah saya menyanggupi untuk memberi uang palang merah, akhirnya saya diajak ke ruang sidik jari dan foto, di sana saya menunggu untuk beberapa lama karena yang biasa bertugas sedang beristirahat, padahal waktu istirahat sudah berlalu sekitar 30 menit yang lalu..hmm..perlu revolusi mental lagi ini..

Fotonya cukup memakan waktu ya, karena sepertinya sistemnya tidak mau menerima foto jika anglenya tidak pas, kalau sidik jarinya lancar, tanda tangan saya kali ini juga mirip bentuk aslinya, tidak seperti di KTP sebelumnya, alatnya waktu itu tidak seperti sekarang, lebih kecil kalau tidak salah jadi ya gitu susah kalau mau tanda tangan, tapi kalau yang sekarang tidak.

Setelah proses foto, sidik jari dan tanda tangan selesai saya langsung diberi pengarahan oleh petugas bahwa surat keterangan KTP sementaranya baru bisa jadi sekitra 3-4 hari lagi, nanti silahkan hubungi kantor kecamatan terlebih dahulu sebelum diambil, saya sih angguk-angguk aja wong tadi sudah dijanjiin bapak petugas yang didepan kalau surat itu sudah bisa saya pegang hari ini asal bayar palang merah dan mengurusnya sendiri (meminta tanda tangan) di dispenduk pusat (layanan satu atap)

Tidak lama setelah itu Bapak Petugas yang menerima saya di awal tadi memanggil saya kembali untuk ke depan sambil dia memegang surat keterangan KTP, temannya, si petugas yang memfoto saya tadi sampai bertanya “Lho, wes dadi ta?” (lho sudah jadi ta?), “wes, gari tanda tangan” sambil memanggil saya kembali..

Setelah saya duduk di meja pelayanan yang di depan, dia mengatakan kepada saya bahwa saya harus ke Siola, pusat layanan satu atap pemkot Surabaya untuk meminta tanda tangan lalu kertas itu diberikan kepada saya.

Setelah saya menerimanya, saya bertanya, “lalu apalagi Pak?”, “Bayar uang palang merah ya..”, jawabnya. Karena saya ingat tadi disuruh bayar 10 ribu jadi ya saya berikanlah uang 10 ribu itu.. lagipula di dompet saya tinggal lembaran uang 100 ribu dan 10 ribu itu.. sayang juga kalau saya kasih yang 100 ribu itu pikir saya, apalagi setelah melihat daftar biaya pengurusan surat-surat yang terpampang jelas di depan saya, aslinya untuk mengurus KTP itu tidak dipungut biaya sepeserpun.

Setelah saya beri uang 10 ribu petugas tadi bilang kalau setelah dari dispenduk surat itu harus dibawa lagi ke kecamatan dan dia akan menunggu sampai pukul 5 sore. Tapi tenang Mams, saya bukan orang yang nggak tau diri atau mau mempermainkan orang, sebenernya sih terbersit juga sih untuk ngerjain..tapi.. baca aja ya terus..

Setelah sampai dispenduk yang memakan waktu sekitar 45 menit dari kecamatan tadi saya langsung memberikan surat tersebut kepada petugas di sana, beliau mengatakan untuk menunggu terlebih dahulu karena nanti akan dipanggil. Tidak sampai setengah jam nama saya dipanggil bersama beberapa nama yang lain.

Setelah di parkiran saya perhatikan surat tersebut, surat itu sepertinya tidak perlu dibawa lagi ke kecamatan, untuk apa pikir saya, tidak perlu dibubuhi stempel atau tanda tangan lagi dari kecamatan.. lalu terbersit pikiran “Yawda ah, mending langsung pulang aja atau ngafe sebentar sambil nunggu jam 4 trus cuss jemput pak suami di kantor”, itu pikiran si devil dalam diri saya, sekalian ngerjain dan ngapokin bapak petugas tadi, tapi kok ada ganjalan, padahal bapak tadi niatnya mau nolongin saya biar nggak bolak-balik ke Surabaya, kok malah saya mau kerjain.

Saya kemudian telp suami, kata suami saya saya disuruh balik aja ke kecamatan dan kasih uang sepantasnya ke dia, kalau sama suami sih disuruh kasih 100ribu, saya yang ogah, kebanyakan menurut saya, hihi..ketauan pelitnya ya.. tapi saya masih jawab aja, “ngapain juga ke kecamatan, orang udah selesai kok urusannya”, tapi karena suami juga keukeuh bilangin saya kalau saya nggak boleh perlakukan orang seperti itu akhirnya saya nurut aja, saya langsung melaju menuju kecamatan yang tadi.

Di kecamatan masih ada beberapa orang yang masih mengurus sesuatu, saya tunjukkan suratnya kepada petugas yang tadi, dia menanyakan foto kopian dan map yang setelah saya ingat-ingat dia tadi memang meminta saya untuk memfoto kopi dan membeli map.

Lalu dia bertanya suami kerja dimana, saya jawab bohong sih, takut dimintai duit yang tidak masuk akal, hehe..parno duluan.. tanya kapan saya akan mengurus SIM, saya bilang segera.. pokoknya banyak nanya-nanya yang nggak penting, surat saya nggak diapa-apain, cuma dimasukkan map lalu dia bilang “ini nanti akan dilegalisir dan baru bisa diambil paling tidak besok, eh bukan senin..oh jangan senin, selasa aja, pagi ya..ini saya bikinkan surat untuk mengambilnya, saya kasih no hape saya juga barangkali saya lupa” saya jadi bingung, “lho.. kok nggak jadi bisa dibawa hari ini” dalam hati sih, trus saya jadi dongkol sendiri.. “Tuh kan bener aku tadi, mending aku langsung bawa aja tuh suratnya nggak usah balik ke sini, jadi ditahan-tahan kan..” dalam hati saya berpikir seperti itu.

Setelah suratnya diberikan, saya yang sedikit melongo ya nggak bisa ngapa-ngapain lagi, tapi amplop 50 ribu itu tetap saya berikan, saya berharap setelah itu dia akan bilang kalau surat keterangannya bisa saya bawa, eh ternyata nggak.. wah saya yang dikerjain ini pikir saya, tapi tetap saya terima blangko pengambilan nya trus ke mobil, mobil saya jalankan agak pelan karena saya merasa bego karena dikibulin itu orang.. “Hmm..sepertinya dia begitu karena saya tadi bayar palang merahnya cuma 10ribu, duh males banget kalau saya harus balik lagi ke Surabaya minggu depan.. mana pasti uang bensin nggak cukup kalau cuma 50 ribu aja”, akhirnya saya putar balik mobil saya.

Untung kantor kecamatan belum tutup padahal sepertinya mereka siap-siap untuk pulang, saya cari bapak petugas yang tadi dan bilang kalau orang tua saya minta surat keterangan e-KTP segera karena besok akan dipakai untuk mengurus SIM, toh dia pasti sudah buka itu amplop, masa’ nggak boleh sih..

Eh beneran, ternyata dia langsung iya-iya aja, surat keterangan e-KTP sementara langsung dikasih ke saya. Huft.. mau ngerjain malah dikerjain orang, untung nggak sampe parah ngerjainnya..

Eh tapi apa memang prosedurnya harus seperti itu ya? Memang harus menunggu 3-4 hari setelah foto, sidik jari dan tanda tangan? Kalau langsung mengurus di dispenduk, pelayanan satu atap itu apa juga perlu menunggu 3-4 hari juga? E-KTP nggak bisa langsung jadikah memang? Saya disuruh menunggu 6 bulan ke depan untuk dapat kartu E-KTPnya.

Sharing dong mams kalau punya pengalaman mengurus E-KTP, bagaimana kalau di daerahmu? Masih adakah oknum-oknum seperti itu? Pernah bego kayak saya tadi nggak? Hihi.. Saya tunggu komennya di kolom komentar yaa..

 

Stay Ketje.

@annelesmana

Share it please, mama ketje.. 🙂Pin on Pinterest0Share on Facebook28Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Share on Tumblr0

11 Comments

  1. Wahidah

    Maaf mbak, sepengalaman saya uang palang merah itu bentuknya sukarela sebenarnya. Kalau kita kasih pun akan dikembalikan dlm bentuk semacam kertas karcis sbg bukti sudah menyumbang untuk palang merah. Untuk kondisi tertentu dispendukcapil memang skrg mempermudah proses pengurusan. Saya tahun ini baru mengurus surat kematian Ayah saya yang sudah meninggal tahun 1999, untuk syaratnya sangat dipermudah kok karena memang kita jelaskan kebutuhannya urgent dan belum pernah membuat akte kematian sebelumnya. Semoga bisa membantu.

  2. Ternyata masih banyak yang bermental karena uang seperti itu ya? Dulu saya pernah mengurus surat kehilangan ATM, tapi nggk ada duit palang merahnya, karena saya mengurusnya langsung di kantor polisi.

    Tapi, saat mengurus STR perawat, ternyata setiap bagian meminta uang palang merah, berdalih untuk biaya administrasil ah, emang tidak cukup ya, dibayar oleh negara. Ok lah, kalau mintanya dalam jumlah sedikit, tapi kalau banyak? berabe juga kan mom.

    1. Berarti mmg ada oknum ya mam.. krn tnyta tdk semua begitu..
      Semoga kedepan praktek2 spt ini bs hilang dr bumi Indonesia ya mam..

  3. Coba mbak warga saya anda puas saya lemas

    1. Haha.. beruntung sampeyan cak g pny warga kya aq.. hehe..

  4. Memang masih ada oknum yang kayak gitu mbak.
    Di daerah saya juga minta di *amplopin*, padahal sudah jelas spanduk didepan kantor bahwa mengurus E-Ktp tidak dipungut biaya.
    Dan pengalaman saya, saya sudah mengurus E-Ktp sejak tahun 2014 tapi sampai 2017 E-Ktp saya belum juga jadi dan hanya dikasih KTP Sementara berupa selembar kertas. Hmpft.

    Btw, suka banget baca postingan mbak, jadi bisa sharing. hehe.

    chici-sriwahyuni.blogspot.com

  5. Aku ngurus e-KTP waktu awal-awal dulu mbak. Jadi kolektif. Cerita dari temen di Batam sini yang baru-baru ngurus, katanya lama banget jadinya.. Alasannya blangkonya habis 😅😅

    1. Oo gtu ya mbak.. klo KTPnya sndri mmg lama, suruh nunggu 6bln

  6. Hmm…belum pernah mengalami hal seribet itu sih. Dulu bikin e-ktp memang lama. Ditinggal berapa lama, trus baru balik rame2 1 RW berdasarkan panggilan. Tapi itu udah lama. Waktu baru2 e-ktp muncul. Itu pun ada yang urus. Kalau sekarang gak tahu seperti apa. Kalo liat tgl di KTP ku sih udah kadaluarsa, tapi ga perlu diperpanjang lagi katanya. Soalnya berlaku seumur hidup.

  7. Waduh ini judulnya ngerjain yang ngerjain tapi malah dikerjain *halagh ribet nulisnya* hahahaha

    Saya dulu urus E-KTP kolektif sih mbak, waktu jaman2nya pergantian itu. Jadi semua gratis dan urusan administrasi ini itu via RT. Bahkan setelah KTP jadi juga terimanya dari RT

  8. E-ktp ku uda setahun mbulet blm jadi. Gemez. Kayak e kena prrmainan oknum. Hikz

Leave a Reply

Required fields are marked*