Family, Social Issues

Galak Gampil dan Bingkisan Lebaran – Tradisi Berbagi Menjelang dan Ketika Lebaran

Hai Mams, maaf ya lama nggak update blog. Saya baru aja pindahan dari Pelabuhan Ratu ke Pandaan, Pasuruan. Sibuk unpacking dan tata-tata rumah tapi sampe sekarang blom kelar-kelar juga, hihi..

Eh, nggak terasa sudah memasuki bulan Ramadhan, ini pertama kali sejak saya ngeblog, saya membuat postingan di bulan Ramadhan. Bagi yang menjalankan ibadah puasa, gimana puasanya? Masih lancar? Kita telah melewati minggu kedua puasa, semoga kita tetap istiqomah menjalankan puasa sampai akhir. Amiiin..

 

Nah ngomong-ngomong tentang puasa, pasti nggak lepas dari Hari Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan setelah melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh. Keluarga saya punya tradisi berbagi kepada orang-orang terdekat kami ketika menjelang hari lebaran.

Entah sejak kapan tradisi berbagi di bulan Ramadhan itu selalu dilakukan keluarga saya. Sejak kecil saya tahu Mama selalu beli beberapa baju, sarung dan sembako lebih banyak daripada bulan-bulan yang lain, waktu saya tanya untuk siapa Mama selalu menjawab untuk Eyang Tjip dan para Magersari, magersari adalah orang yang membantu menjaga kebun atau sawah yang kami punya di desa, Banyuwangi. Menurut mama, Bapak dan Ibu (panggilan saya bagi Kakek dan Nenek dari pihak Mama) sudah melakukan tradisi berbagi tersebut bertahun-tahun yang lalu sejak mereka hanya punya satu magersari, biasanya bukan si magersari saja yang dapat bingkisan lebaran tersebut, tetapi juga anak dan istri mereka.

Oh ya, mumpung ingat, semoga cerita saya ini tidak dianggap riya’ ya, karena di sini niat saya murni ingin berbagi cerita dan siapa tahu bisa menginspirasi.

Oke, kalau gitu kita lanjut yaa..

Nah tradisi tersebut mulai menurun kepada saya, walaupun saya melakukannya cukup telat, saya melakukannya setelah saya bekerja dan tinggal sendiri, waktu itu saya belum menikah.

Saya sisihkan uang THR saya untuk memberi bingkisan sembako untuk mbak asisten rumah tangga yang membersihkan rumah saya, pak satpam kompleks dan tukang sampah, serta emak (asisten rumah tangga) yang mengurus saya sejak SMP sampai SMA dan kalau lagi pulang ke Banyuwangi, kalau emak tidak selalu sembako, karena biasanya sudah dapat dari  Mama, kalau tidak mentahan, kadang saya belikan baju atau kain panjang (jarit). Tidak banyak sih nominalnya tapi saya selalu menyisihkan untuk mereka.

Di keluarga besar saya dari pihak Mama, diantara para sepupu ada tradisi yang cukup unik, karena kami sudah tidak punya kakek dan nenek (meninggal saat berhaji karena tragedi terowongan Mina 1990), yang sudah bekerja biasanya tidak akan menerima angpau lebaran atau dalam bahasa jawa biasanya kami menyebutnya ‘galak gampil’, jadi bagi yang sudah bekerja maka menjadi si pemberi, nah karena saya sudah bekerja dan cucu tertua maka saya harus menyiapkan ‘galak gampil’ untuk sepupu saya tersebut, lumayan, saya punya adik sepupu sekitar 9 orang..hehe.. lagi-lagi nominalnya nggak seberapa tapi kemeriahan saat berbaginya itu yang kami tunggu-tunggu sambil menggoda mereka agar cepat lulus kuliah kemudian bisa bekerja sehingga bisa mengurangi ‘beban’, hehe..

Blom lagi untuk Papa, Mama dan Adek saya, tapi jujur awal bekerja saya malah tidak memberi mereka apa-apa, duh.. ya karena Papa dan Mama tau gaji saya masih pas-pasan waktu itu.. hehe..

Setelah menikah tradisi tersebut masih saya dan suami teruskan, si penerima Galak Gampil dan bingkisan semakin banyak karena sekarang kami adalah dua keluarga yang menjadi satu. Dari pihak suami ada nenek (sekarang sudah almarhum), mertua saya, adek suami, keponakan, sepupu yang masih kecil-kecil, asisten yang membantu mama mertua, dan lain-lain, pokoknya tambah banyak deh..hehe..

Tapi nggak apa-apa, memang momentum lebaran itu jadi momentum berbagi bagi saya dan suami, karena kami selalu berdoa agar dijadikan saluran rejeki dari Allah SWT, Tuhan YME, bagi orang lain, karena ketika kita menjadi saluran rejeki bagi orang lain, kami yakin kami akan terus diberi kelimpahan rejeki yang tak henti-hentinya, asal kita memang menyalurkannya kembali kepada yang seharusnya, bukankah sebagian harta yang kita miliki ada harta orang lain juga? Si fakir, si miskin dan anak-anak yatim dan mungkin orang-orang di sekitar kita yang memerlukan? Yang sepakat unjuk gigi donk..eh.. jangan lebar-lebar, ingat lagi puasa.. hehe..

Meskipun sudah ada rejeki, uangnya, ternyata niat berbagi itu nggak semudah itu aja lho dilakukan. Apalagi buat saya yang tinggal jauh dari peradaban *lebaynya kumat..

As you know (emang tau? Apa sih? anggap aja taulah ya..hehe..), saya kan selama 3 tahun lebih selalu tinggal di perantauan, mengikuti suami yang lokasi dinasnya selalu berpindah-pindah dari satu kota kecil ke kota kecil lainnya. Nah, ketika saya ingin berbagi rejeki dengan orang lain, yang mana bentuknya tidak selalu uang, tetapi barang, barang sandang a.k.a baju dan teman-temannya untuk Mama, Papa, Mertua, adek, saya selalu kesulitan untuk membelinya, karena di daerah tempat tinggal saya sudah barang tentu pilihannya sedikit dan seringkali tidak sesuai selera mereka, mau cari di kota besar sekitar juga terkadang tidak ada waktu.

Saya awalnya cukup kesulitan, walaupun banyak marketplace yang menjual kebutuhan sandang tetapi tidak semua yang cocok dengan selera saya dan keluarga tapi sejak mengenal Zalora, rasanya bener-bener hepi.. Seneng banget dapat marketplace yang jualan barang-barang sandang dengan berbagai macam pilihan mulai dari baju, sepatu, tas, aksesoris sampai kosmetik yang up to date, brand-brand terkenal dan yang paling penting sesuai dengan selera saya juga keluarga.

Akhirnya selama kurang lebih hampir empat tahun ini, 4 kali lebaran selalu membelikan bingkisan lebaran untuk beberapa orang tersayang di Zalora.

Selain memang barang-barangnya banyak yang branded, bagus-bagus kualitasnya, kalau mau retur juga mudah misalkan ada ketidakcocokan size, warna atau tiba-tiba berubah pikiran ganti barang yang lain, asalkan masih dalam batas waktu pengembalian dan mengikuti prosedur yang ada, beberapa barang yang produksi Zalora bahkan sejak saya belanja di sana hingga sekarang juga masih gratis ongkir. Cuma ada satu yang saya perlu saya ingatkan ketika belanja di Zalora untuk lebaran pastikan jangan terlalu mepet ya, biasanya seminggu sebelum lebaran Zalora sudah menutup pengiriman, which is kita tidak bisa melakukan order lagi karena sudah overload dari pihak ekspedisinya dan ditakutkan tidak bisa sampai tepat waktu sebelum lebaran, kecuali mau barangnya datang setelah lebaran sih nggak apa-apa.

Nah yang belom belanja keperluan tersebut yuk langsung aja belanja di Zalora

Yuk Mams, segera belanja keperluan lebaran sekaligus berbagi dengan orang yang kita sayang..

Selamat menjalankan ibadah puasa and dont forget to stay ketje!

@annelesmana

 

 

 

Share it please, mama ketje.. 🙂Pin on Pinterest0Share on Facebook6Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Share on Tumblr0

Leave a Reply

Required fields are marked*