Family

Another Journey-Si Ular pembawa pesan

Hari minggu siang (tanggal 24 April) saya tiba-tiba melihat ada seekor ular merambat di pagar belakang rumah kontrakan kami di Pacitan. Belakang rumah kami memang kebun atau tanah pekarangan yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman, mungkin itu juga jadi tempat tinggal si ular.

Ularnya memang tidak besar paling hanya berdiameter 1,5-2 cm dan panjang sekitar 50cm, tapi itu cukup membuat saya geli dan agak sedikit merinding.

Waktu itu saya memberitahu asisten rumah tangga, si Bibik, kalau ada ular merambat dekat kamarnya, memang posisi ular pada saat itu ada di balik pagar/pembatas rumah di bagian luar, pembatasnya terbuat dari semacam kasa yang cukup tebal. Setelah si Bibik saya beritahu, dia langsung lari menuju teras belakang, pas udah sampe, eh..si ular udah keliatan sisa ekornya saja, kata bibik , ular itu tidak akan bisa masuk ke dalam rumah.

Ular..hmm.. pikiran saya langsung beralih ke mitos orang Jawa jaman dulu, katanya kalau lihat ular di sekitar rumah atau dimasuki ular maka biasanya akan pindah. Wah..jangan-jangan bakal pindah ni, pikir saya..

Suami waktu itu sedang perjalanan ke luar kota, ke Surabaya, baru berangkat pagi sebelum saya melihat ular tersebut. Ada rapat penting dengan pihak management, sebelum suami berangkat memang dia bilang kalau mungkin ada mutasi lagi, bisa kita yang dapat atau bisa juga orang lain.

Saya sudah pengen telepon dan menceritakan hal itu, tapi saya mengurungkan niat saya, entahlah, mungkin saya tidak mau ditertawakan oleh suami yang suka mengatai saya “suka percaya tahayul”, jadi akhirnya saya simpan sendiri dalam hati.

Sebenarnya bukan percaya tahayul sih, saya hanya percaya bahwa kita manusia dilengkapi Intuisi oleh Tuhan YMK untuk bisa survive dengan membaca tanda-tanda alam, dan mungkin kali ini tanda itu disampaikan oleh si ular tersebut.

Ah, tapi percuma saja cerita kalau belum terbukti benar pasti cuma diketawain, biar aja deh pikir saya..

Rapat suami sebenarnya hanya 1 hari, yaitu hari Senin, sampai Senin pagi saat dia menelepon saya, saya tidak menceritakan tentang adanya ular tersebut. Suami hanya minta doa supaya hasil rapat kali ini baik untuk kami sekeluarga.

Pukul 18.00, setelah saya WA, nanya “Gimana hasil rapatnya?”, suami langsung telepon.

“Kamu tau, kita dapat rejeki lagi..”

“Rejeki? Rejeki apa? Kamu naik level lagi?”

“Bukan, tambahan tabungan..kemarin kan kita lagi bahas rencana tabungan untuk renovasi rumah Surabaya, nah ini ada rejeki untuk nambahin tabungan kita”

“Hah?! Maksud kamu duit relokasi?”

“Iya, kok tahu? Dan kamu tahu kita akan pindah kemana?”

“Kemana? Gak tau aku.. Eh,..”, mau cerita tentang firasat yang dibawa si ular kemarin

“Ayo tebak kemana..?”

“Eee..Wonogiri..Trenggalek?”

“Kamu pasti suka..”

“Sukabumi?”

“Iya.. aku tau kamu pasti suka dipindah ke situ, dulu kamu pernah bilang pengen ngerasain tinggal di Jawa Barat..nah ini saatnya.. Makanya waktu sama Pak Y disuruh mempertimbangkan dan tanya istri aku langsung jawab iya, karena aku tau kamu pasti seneng”

“Mmm.. “, langsung mbayangin harus pindahan lagi, adaptasi lagi, si Bibik mau ikut atau nggak, perasaan campur jadi satu antara seneng, sedih,  sedihnya karena harus adaptasi lagi, ninggalin tetangga-tetangga yang baik-baik ini, yang sudah seperti keluarga,bingung karena harus mikir persiapan apa aja dan kapan harus dipersiapkan, sedikit shock – perasaan yang selalu ada saat denger soal mutasi.

“Ya, kamu seneng ya?”

“Aku udah kerasa kalau kita bakal pindah lagi..”, kataku

“Ah kamu, selalu gitu..”

“Lho, iya.. kemarin aku liat ular mau masuk ke rumah, ya waktu itu langsung aku seperti dapat firasat kalau kita akan segera pindah”

“Mesti wes…”

“Lho iya, cuma aku males kemarin cerita ke kamu, males diginiin.. kalau nggak percaya coba tanya Bibik..”

“Terus gimana? Masuk ke rumah? Gede nggak ularnya? Bahaya..  Eh, bibik gimana ya? Mau nggak ikut kita pindah?”

“Lha, ya..itu..”

Kami harus pindah lagi..

Si Ular itu membawa kabar lebih cepat dari suamiku.

Another journey.. Another story..

Oo.. Pacitan, mulai dari membencimu sampai mencintamu, nanti kami akan ngangenin kamu..

Ini transit terlama kami ketika ditugaskan ke daerah, kalau Juli nanti kami sudah pindah, maka total di Pacitan sekitar 22 bulan. 2 kali lipat dibanding di Jembrana.

Di Pacitan sini kami mendapatkan si anak bungsu, proses ‘membuat’nya sampai melahirkannya..

Tidak membayangkan akan memiliki anak kedua kami di sini, kota kecil yang sempat saya..ah..sudahlah.. sekarang ini jadi kota kenangan keluarga kecil kami.

Lho kok semendal gini ya..Semendal itu bahasa jawa dari terharu. Beneran jadi pengen nangis pas nulis paragraf di atas ini tadi.

Karena itu saya ingin mengabadikan sudut-sudut rumah kami di Pacitan dan sudut-sudut kotanya juga, dimana biasa kami mencari sedikit hiburan di kota kecil ini, dimana kami melahirkan si anak bungsu, dll. Saya ingin berbagi dan sekaligus mengenang semua yang ada di kota ini.

Pacitan, at first I hate you, but for a whole life time I cant forget you, wait for us.. Someday we will return to visit you, when my Baby asked “How Pacitan looks like? I want to know my birth place”

*continued droping my tears*

Anne Lesmana

 

Share it please, mama ketje.. 🙂Pin on Pinterest0Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Share on Tumblr0

6 Comments

  1. Mba anne miss u :*
    Semoga betah di Sukabumi ya

    1. Miss u 2 mb olif.. Qta kan ttp bs kontak lwt blog ato wapri.. Hehehe

  2. Kalo di tempatku, ada ular yg datang ke rumah katanya ada hutang yg blm dibayar. Tiap2 daerah beda versi ya.
    Selamat menempuh hidup baru di tempat baru Anne.
    Yg kangen kamu gak cuman orang pacitan aja lho, tmn2 di grup jg kangen ni 😊

    1. Iya, ada jg yg blg bgtu Sa.. Hehehe iya Sa.. Salam buat tmn2 d grup ya.. Ttp bs kontak via blog/wapri kok.. 😊

  3. selamat pindahan ya mbak

    1. Iya mas, makasih 😊

Leave a Reply

Required fields are marked*