Family, Traveling

Affordable and Unique Hotel in Jogja-Part 3

Halo.. Udah nungguin Review yang part 3 ini ya?

Oh ya, buat temen-temen yang ingin dapat update review penginapan yang baru dari saya kalau tidak punya akun blog seperti blogspot atau wordpress bisa juga follow IG saya: @annelesmana atau FB saya: Ratna Maulina Putri Ariani (ratna.maulina@gmail.com) karena sebelum saya melakukan review biasanya saya akan memberikan sedikit info apa yang akan saya review dan waktu publish-nya.

Oke, tak perlu berlama-lama, ini review hotel/penginapan kali ini

Namanya Hotel Rengganis. Hotel ini berada di Jalan Ngadinegaran MJ III/133 Matrijeron Jogjakarta.

Saya sudah 2 kali menginap di hotel ini.

Pertama November 2014 dan yang kedua baru-baru ini sekitar bulan Januari atau Februari 2016 ini. Oh ya, soal foto jujur saya ambil dari berbagai sumber, karena walaupun sudah 2 kali menginap di sini saya lupa mengabadikannya.

Awal pertama menemukan hotel ini ya dari Tripadvisor. Ceritanya waktu itu Quinn mau berulang tahun yang pertama, jadi orang tua saya mau berkunjung ke Pacitan untuk pertama kalinya. FYI saya pindah ke Pacitan itu bulan September 2014. Perjalanan Banyuwangi-Pacitan kan jauh, kira-kira 2 jam, jadi menurut saya jika orang tua saya hanya datang ke Pacitan saja ya kurang menarik dan waktu itu saya juga belum begitu tahu daerah-daerah wisata di Pacitan yang sebenarnya juga tak kalah indah dan menarik (next time I’ll review it for you), jadi saya tawarkan kepada orang tua saya bagaimana jika setelah pesta ultah Quinn nanti kita semacam roadshow begitu jalan-jalan ke Jogja dan Solo, eh Papa-Mama saya mau, Papa-Mama saya malah mengajak juga ke Semarang untuk mengenang masa-masa awal pernikahan mereka, Saya dan Suami juga setuju, lagipula saya belum pernah ke Semarang.

Kira-kira sebulan sebelum mereka datang, saya sudah mencari hotel-hotel mana saja yang akan kami singgahi selama road show tersebut serta kegiatan apa saja yang akan kami lakukan di kota tersebut, yah semacam bikin itenarylah.. latihan siapa tahu besok-besok punya biro travel sendiri *amien, doakeun yaa..*

Nah, karena tujuan pertama adalah Jogja maka saya mencari hotel yang murah, nyaman n unik. Dan ketemulah saya dengan Hotel Rengganis ini. Awalnya saya tertarik dengan interiornya *lagi-lagi*. Selain harganya yang terjangkau saya suka interiornya, gaya javanese vintage kalau istilah saya sendiri dan ada kolam renangnya, tapi waktu itu Quinn belum terlalu suka berenang jadi tidak sempat nyoba kolam renangnya.

image
Terlihat kolam renang di depan restaurant

Saya langsung booking 2 kamar. Kalau tidak salah dulu jenis kamarnya adalah Deluxe. Harganya Rp. 350.000/malam untuk satu kamar sudah termasuk pajak, sarapan dan lain-lain.

Singkat kata kami sudah sampai di Jogja, waktu itu kami membawa 2 mobil, satu mobil berisi kedua orang tua saya, sopir dan adik saya, sedangkan mobil yang satunya berisi saya, Quinn, Suami dan Bibik. Kami langsung mencari lokasi hotel dengan menggunakan Google Map. Awalnya saya cukup terkaget-kaget karena ternyata lokasi hotel ini berada di sebuah gang yang cukup untuk 2 mobil ngepres *help, ini bahasa Indonesianya apa?* sekali, ini pengalaman pertama menginap di sebuah hotel yang berada di gang yang cukup sempit ini. Melihat tampilan depannya tidak terlalu terkesan, mirip rumah biasa. Tetapi setelah masuk ke dalam gedung, saya langsung merasakan suasana jawa, homey..teduh.. Lobbynya memang tidak terlalu besar tetapi di sana banyak terdapat ornamen dekorasi yang unik dan kental dengan nuansa jawa, mulai dari patung-patung yang ditaruh di meja, lukisan, sampai piring-piring antik dan kain-kain batik yang digantung di dinding.

image
Ini tampilan gedungnya

image
Lorong lobby menuju Restaurant dan kamar

Setelah mengurus administrasi kami diantar ke kamar kami, sebelumnya petugas meminta maaf karena keran di kamar mandi sedikit mengalami kebocoran, setelah kami lihat tidak terlalu menimbulkan masalah bagi kami saya bilang tidak apa-apa kami akan tinggal di kamar tersebut, sebetulnya saya dan suami akan menempati kamar yang kamar mandinya bocor itu dan orang tua saya di kamar yang lebih depan, yang bisa diakses dari garasi atau tempat parkir tetapi karena di sana akan di tempati orang tua saya dan adik saya dan tempat tidurnya adalah tempat tidur twin (2 buah spring bed 120×200) maka tidak akan cukup untuk mereka maka kami bertukar tempat karena di kamar yang harusnya untuk saya itu terdapat spring bed ukuran 160×200 dan sebuah sofa yang bisa digunakan adik saya untuk tidur. Ukuran kedua kamar itu kira2 sekitar 5×4 m2, cukup besar seingat saya. Bagaimana dengan Quinn dan bibik? Bibik dan Quinn tidur sekamar dengan saya dan suami, satu spring bed 120×200 untuk Bibik dan Quinn, satunya untuk saya dan suami, sekali-sekalilah tidur kruntelan di kasur kecil sama suami, lumayan bisa pelukan terus selama tidur supaya tidak jatuh. *bohong, mana mungkin pakai peluk-peluk, malu sama si Bibiklah, hehe..* Ya begitulah cara kami mengakali supaya liburan kami masih on budget.. *emak irits nyerempet kikirnya muncul lagi* Lagipula hanya semalam ini pikir saya karena setelah itu kami akan langsung cus ke Semarang. Bagaimana dengan Pak Supir? kebetulan dia punya kakak dan lama tidak mengunjunginya jadi Pak Supir tidur di rumah kakaknya itu.

Untuk interior di kamar saya lumayan suka karena masih bernuansa Jawa, cuma yang agak mengganggu adalah pilihan warna cat-nya, warnanya hijau tosca dan itu menambah kesan jadi agak serem, karena cenderung gelap, tapi memang warna hotel ini didominasi oleh warna tosca ini, kenapa tosca ya? Apa karena hijau itu warna kesukaan Nyi Roro Kidul? Kan Jogja juga terkenal mistiknya, banyak juga yang mengidolakan Nyi Roro Kidul, ah serem ah.. Nggak kok, tidak ada foto atau gambar-gambar Nyi Roro Kidul kok di hotel ini, cuma ada foto Sultan Hamengku Buwono IX sih, hampir di semua kamar ada foto beliau.

image
Ini kamar yg ditempati oleh ortu dan adik saya

Paragraf sebelumnya menceritakan pengalaman pertama menginap di sana, pengalaman saya kedua menginap di sana adalah bulan Februari yang lalu, kalau tidak salah saya dapat harga Rp. 280.000/malam termasuk pajak dan lain-lain. Saya agak-agak lupa tipe kamar yang pernah saya sewa jadi saya langsung booking kamar yang itu, yang sekarang saya tahu ternyata tipe kamarnya berbeda, yang dulu tipe Deluxe kalau tidak salah, yang sekarang tipe Superior(kalau tidak salah ya, karena saya baru cek di Tripadvisor untuk jenis kamar seperti kamar yang saya pesan pertama kali tidak ada, mungkin sudah penuh dibooking orang) pantas saja kamarnya lebih kecil dan berlokasi di lantai atas, saya agak kecewa mendapatkan kamar itu. Kali kedua saya menginap di sana saya sudah punya dua orang anak, karena suami saya sudah mewanti-wanti *javanese language*agar si bibik tidur di kamar yang terpisah dengan kita maka saya pesankan dormitory room, kamar itu ternyata letaknya sangat jauh dari kamar saya, saya kecewa lagi untuk kedua kali.

image
Bibik tidur di dormitory room yg paling pojok itu

Doormitory room di hotel tersebut dipisahkan untuk laki-laki dan perempuan sendiri-sendiri, ada yang untuk 4 orang dan ada pula yang untuk 6 orang. Doormitory room ini semacam sharing room, berbagi kamar dengan yang lain. Untuk tempat tidurnya berbentuk bunk bed atau tempat tidur susun. Anda akan diberi kunci kamar sendiri-sendiri dan lengkap dengan abjad penanda tempat tidur Anda. Di doormitory room terdapat kamar mandi dalam juga, sayang tanpa TV. Untuk fasilitas seperti AC dan handuk disediakan oleh pihak hotel.

image
Ini bunk bed-nya

Ada pengalaman lucu waktu si bibik saya tempatkan di sana, subuh-subuh bibik sudah ketok-ketok pintu kamar saya, seperti biasa dia masuk lalu membereskan barang-barang yang bisa dibereskan agar nanti waktu packing tidak terlalu lama jadi saya biarkan saja, setelah keluar dari hotel dan hampir ke luar dari Jogja si Bibik tidak seperti biasanya sudah tertidur pulas di kabin belakang, padahal Quinn saja belum tidur, saya tahunya waktu saya tanya sesuatu ke dia, eh kok tidak ada jawaban, lihat ke belakang ternyata si Bibik sudah tertidur, tapi akhirnya tidak lama terbangun, saya tanya kenapa kok kelihatan ngantuk sekali apa tadi malam tidak bisa tidur? Lalu dia menjawab jika tadi malam dia tidak bisa tidur karena dia ketakutan, sepi sekali karena letaknya di pojok sebelah atas, jarak dari kamar yang ada penghuninya lumayan jauh yaitu 2 kamar dan penghuni kamar doormitory itu hanya dia saja, tidak ada TV juga, jadi tambah sepi, akhirnya katanya semalaman tidak bisa tidur, kasian si Bibik, niat saya supaya dia bisa tidur enak sendiri di kamar itu eh malah tidak bisa tidur.

Bicara tentang interior, saya paling suka dengan interior kamar mandinya, temanya natural, dinding di kamar mandi menggunakan lempengan batu dan beberapa batu utuh jenis lain, cuma sayang terlihat agak kotor, mungkin karena pencahayaan di kamar mandi yang kurang terang tetapi sepertinya disengaja seperti itu untuk menunjang tema, memberikan kesan semakin natural.

image
Ini kamar mandinya, untuk dormitory room sepertinya interiornya tidak seperti ini

Pada pengalaman pertama kami menginap di sana, sebelum kami check out keesokan harinya, kami sarapan dulu, ada beberapa pilihan menu sebenarnya, pertama kali ke sana kami agak kesiangan dan hanya mendapat sop atau soto kalau tidak salah, ada juga roti sebenarnya, tapi kala itu saya mengambil sop-nya, sop-nya kosong melompong tidak ada isinya dan rasanya cenderung hambar. Kali kedua saya ke sana pilihannya adalah bubur, nasi pecel dan roti, saat itu saya mencoba buburnya, kali ini lumayan menurut saya dibandingkan kali pertama dulu tapi jika boleh sarankan jika Anda memesan hotel di sini lebih baik Anda memesan yang tanpa sarapan, sarapan saja di luar sekalian menikmati kuliner khas Jogja. Jika malam Anda masih di hotel dan merasa lapar tidak perlu bingung mencari makan malam, karena di sekitar hotel banyak restaurant dan kafe yang unik dengan jenis makanan beragam, saya sih belum sempat mencoba kafe atau restaurant-restaurant tersebut tetapi dari penampilan luar dan banyaknya pengunjung yang di sana bisa menjadi indikasi bahwa restaurant atau kafe itu worthed to try, next lah saya sempatin dan saya buat reviewnya juga.

Kesimpulannya hotel ini masih masuk kriteria hotel yang nyaman dan unik sekaligus terjangkau bagi saya, jika Anda datang bersama keluarga yang cukup besar seperti rombongan circus saya (suami, saya, Quinn, Evlan dan Bibik) saya sarankan pilih kamar yang besar (Tipe Deluxe kalau tidak salah, yang harganya setelah pajak dan lain-lain mungkin sekarang, 2016,  bisa di atas Rp. 350.000), jika Anda seorang backpacker dan pemberani saya sangat merekomendasikan doormitory room karena kamar tersebut cukup nyaman kok jika hanya digunakan untuk beristirahat saja, dimana lagi mencari kamar ber-AC hanya dengan uang Rp. 100.000, ada kamar mandi dalamnya pula, walaupun ya harus sharing. Jika Anda seorang backpacker tetapi cukup penakut lebih baik Anda mengajak teman untuk menyewa kamar doormitory tersebut atau paling tidak menanyakan terlebih dahulu apakah doormitory room-nya sudah diisi oleh tamu yang lain di hari yang sama ketika nanti Anda menginap di sana, hehehe..

Oke thats all for now, kalau ada pertanyaan jangan sungkan untuk disampaikan, I’ll try my best to help you as long as I can..

See you,

Anne Lesmana.

 

Share it please, mama ketje.. 🙂Pin on Pinterest0Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Share on Tumblr0

Leave a Reply

Required fields are marked*