Family, Traveling

Affordable and Unique Hotel in Jogja (Part 1)

Hmm.. Karena banyak foto-foto di Jembrana yang masih di handphone lama dan hard disk laptop suami yang masih diservis, maka lanjutan cerita tentang Jembrana dilanjutkan setelah foto-fotonya sudah terkumpul secara lengkap ya.. *maaf*

Nah sebagai lanjutan cerita yang kemarin, singkat kata, anggap saja saya sudah cerita tentang our little family journey di Jembrana.. *nakalan*. Setelah 11 bulan tinggal di Jembrana, yup, cuma 11 bulan saja kami tinggal di sana! akhirnya suami dipindah lagi ke Pacitan. Hello..ada yang tahu di mana itu Pacitan? Saya sih sebelum dipindah sudah tahu kalau Pacitan itu kota kelahiran Pak SBY tapi di mana letak pastinya kota tersebut saya blank, awalnya saya kira Pacitan itu sudah ikut provinsi Jawa Tengah, ternyata masih di Jawa Timur.

Kota Pacitan ini adalah sebuah kota kecil di ujung barat paling selatan provinsi Jawa Timur *you know what  I mean? Anggap aja tau yes?*, berbatasan dengan kabupaten Wonogiri, Ponorogo dan Trenggalek. Kalau masih nggak paham saya kasih petanya aja ya..

Screenshot_2016-04-07-00-40-30

Karena Pacitan ini adalah kota kecil maka seperti biasanya untuk menghilangkan kepenatan hidup di kota kecil yang minim akan hiburan maka perlu dicarikan pelampiasan yaitu sebuah kota besar yang sarat akan hiburan.. *udah kayak anggota DPRD bikin proposal APBD aja bahasanya*, dan kota besar yang terdekat dengan Pacitan adalah Jogja dan Solo. Eh betewe apa sih kriteria atau definisi untuk sebuah kota besar? Mau menurut siapa nih defisi dan kriterianya? Kalau menurut saya sih, pokoknya yang ada mall-nya! Udah itu aja..simple kan? Wkwkwk.. Jadi karena definisinya hanya itu maka kota seperti Ponorogo dan Madiun yang cukup dekat dengan Pacitan sudah bisa dianggap kota besar dan layak dijadikan tempat pelampiasan kegundahan dan kerinduan akan Mall beserta apa saja yang ada di dalamnya *nyengir*

Jarak antara kota ‘besar’ tersebut dengan Pacitan rata-rata 2-3 jam. Sebenernya bisa sih pergi pagi pulang malam *bukan lagunya Wali ya* atau pulang sore cuma karena saya bawa 2 balita jadi takut capek dan biasanya kalau sudah capek jadi sakit, kalau sakit saya jadi stress dan kalau stress saya jadi pengen jalan-jalan lagi ke kota ‘besar’ itu maka itu akan menjadi viscious circle a.k.a lingkaran setan, bagi sapa? Saya? Bukan, bagi suami saya! *ngakak*

Oleh sebab itu setiap kami pergi ke kota ‘besar’ maka kami harus menginap, paling tidak semalam untuk beristirahat setelah seharian berjalan-jalan, kemudian biasanya siang atau sorenya kami kembali ke Pacitan. Haduh apa nggak keluar duit banyak tuh kalau begitu? Tidak, saya punya cara untuk mengakalinya yaitu dengan mencari hotel-hotel yang murah tapi tidak murahan alias nyaman dan bersih juga ada tambahan kriteria yang lain yaitu kalau bisa yang unik. Salah satu hotel itu adalah:

Tjokro Style Hotel

Salah satu hotel di Jogja yang masih satu grup dengan hotel Grand Tjokro, cuma lokasi kedua hotel itu cukup berjauhan.

Hotel Tjokro itu berlokasi di Jalan  Menteri Supeno no 48 Yogyakarta

Hotel ini setara dengan hotel bintang 3

Kenapa saya memilih hotel ini? Ceritanya, waktu itu saya dan keluarga ke Jogja karena ingin mengantarkan kedua orang tua saya yang ingin pulang dengan kereta api lewat Jogja setelah mengunjungi cucu-nya di Pacitan, waktu itu anak saya baru satu, Quinn, FYI  di Pacitan tidak ada jalur kereta api ya, jalur kereta api terdekat hanya di Jogja, Solo dan Madiun. Jauh-jauh hari sebelum papa-mama saya ke Pacitan saya sudah mencari hotel apa yang cocok untuk tempat menginap di Jogja. Pada waktu itu kami menyewa 2 kamar Superior. Saya terbiasa mencari hotel dengan menggunakan aplikasi Tripadvisor karena ada lebih banyak pilihan tempat menginap, bukan hanya hotel saja tetapi juga guest house, bed and breakfast, homestay, villa dan Resort. Saya biasanya akan mencari di kategori “B&B (Bed & Breakfast) dan other jika ingin mencari harga yang lebih murah setelah di kategori hotel tidak ditemukan yang saya inginkan, untuk langkah-langkah mencarinya adalah sebagi berikut:

Screenshot_2016-04-07-01-05-33
1. Buka aplikasi Tripadvisor Anda jika sudah mendownloadnya, lalu masukkan anam kota di kolom seach engine
Screenshot_2016-04-07-01-02-50
setelah muncul seperti ini, lalu klik “hotel”
Screenshot_2016-04-06-22-58-28
setelah muncul seperti ni silahkan pilih satunya sampai Anda mendapatkan yang Anda inginkan

Oh ya soal tarif hotel ini mulai dari harga 350.000/mlm, tergantung aplikasi pembookingan apa yang Anda pakai, saya biasanya memakai Agoda.com atau Booking.com, untuk Anda yang tidak memilki kartu kredit dan ingin bayar di tempat, Anda bisa melakukan pembookingan di Booking.com tetapi harganya sedikit lebih mahal daripada di Agoda.com,  Agoda lebih murah tapi Anda wajib memasukkan nomer kartu kredit yang Anda miliki saat proses pembookingan.

Saya jatuh cinta dengan hotel ini saat pertama melihat foto-foto interior hotel tersebut. Saya kan penyuka gaya arsitektur retro, modern retro lebih tepatnya, jika Anda mampir ke rumah saya maka Anda akan menemukan lukisan Audrey Hepburn dan The Beatles di ruang tamu saya, dan itu merupakan salah satu ciri interior modern retro tersebut, jadi ketika saya benar-benar datang dan memasuki hotel tersebut saya sangat suka dan cocok dengan interiornya, felt like home, seperti rumah impian saya tepatnya. Untuk lebih jelasnya, saya sertakan fotonya di sini

IMG_20151003_182914
Ini lobby-nya, suka banget sama mural Marlyn Monroe-nya
IMG_20151003_182839
Couch-nya lucu ya, patch work khas modern retro, lukisan di atasnya juga semakin menambah kesan retronya
IMG_20151003_182807
Ini restaurantnya
IMG_20151003_182739
Masih di restaurantnya, coba lihat apa itu di bagian atas, plafonnya dihiasi jendela-jendela kuno yang sudah dicat ulang dengan berbagai macam warna semakin menguatkan tema retro-nya
IMG_20151003_182723
Ada beberapa couch juga di Restaurant-nya
IMG_20151003_182653
Ini Bar-nya. Itu Eyang Papi dan Maminya Quin bersama dengan Quinn
IMG_20151003_182554
Bar dan Restaurant dibatasi oleh kaca. Yang sedang duduk di pojok itu adalah suami tercinta *nyengir*

Untuk kamar Superior ukurannya adalah 18 m2, fasilitas di kamarnya ada TV dengan channel lokal dan internasional, Internet access, Telepon, AC, Meja, Berkarpet (saya cenderung memilih hotel yang berkarpet walaupun kotanya tidak begitu dingin, ada alasannya tapi akan saya bahas lain waktu), soundproof jadi jika Anda bawa balita yang masih suka nangis tidak akan terdengar dan sungkan *jowone metu maneh* a.k.a segan dengan tetangga kamar lain, Lantainya marmer (cukup eksklusif kan dengan harga segitu), Wardrobe/Closet (padahal saya jarang membutuhkannya, baju ya di taruh koper aja, wong cuma semalam ini), Hairdryer (penting banget buat saya kalau habis keramas tidak ada benda satu ini saya bisa langsung masuk angin, jadi kalau cari hotel harus ada ininya, kalau ada hotel murah dan bagus tapi tidak ada benda ini, ya terpaksa bawa sendiri dari rumah), Sandal hotel, Toiletries.

Sedangkan untuk fasilitas hotelnya sendiri mereka menyediakan: Free-Wifi in all area, Kolam renang yang cukup besar menurut saya (ini juga menjadi satu pertimbangan bagi saya dalam memilih hotel, misalnya ada 2 hotel harganya sama, interior dan arsitekturnya sama-sama cute atau unik saya tetap milih yang ada kolam renangnya karena Quinn suka banget berenang), Free Parking (ini penting banget kalau tidak free parking alias tidak disediakan lokasi parkir mobil suami tidak bakal mengapprove se-cute apapun hotel itu dan biasanya hotel bintang 3 dan ke atas sudah menyediakan area parkir), Restaurant (interior di area ini yang paling saya suka setelah interior lobby-nya), Airport Transportation untuk yang dari bandara dan mau ke bandara, cuma saya tidak tanya apa ada charge lain lagi untuk service yang ini, Bar, Room Service dan Shuttle Bus (apakah kena charge tersendiri dan rutenya saya tidak tahu karena untuk jalan-jalan saya menggunakan kendaraan pribadi)

IMG_20151003_182545
Kolam renang di malam hari

IMG_20151005_072141
Setelah extent, Quinn langsung berenang 

Bagaimana dengan pelayanannya? Waktu check-in saya agak kecewa karena salah satu kamar yang saya pesan ternyata mendapat tempat tidur twin bukan yang double, saya agak marah waktu itu karena pada saat pemesanan sudah saya pilih yang double semua, tetapi dengan alasan kamar Double Superiornya sudah habis jadi kami tetap mendapat 1 kamar Double Superior dan 1 kamar Twin Superior dan sebagai kompensasi atas keteledoran pihak management hotel maka kami mendapat free mini bar, jadi apapun makanan kecil yang sudah disediakan di 2 kamar hotel yang kami sewa, kami tidak perlu membayarnya alias gratis. Okelah pikir saya, setidaknya ada suatu bentuk tanggung jawab. But you know what?? Karena fokus jalan-jalan akhirnya saya sampai lupa bawa pulang itu free minibar-nya, cuma 1 soft drink yang saya minum *geblek*

Selain pelayanan pihak management semua staf-stafnya juga baik, ramah-ramah dan sigap dalam melayani. Seperti misalnya ketika saya ingin mengabadikan moment di hotel yang menurut saya unik ini dan pak Suami masih ogah-ogahan untuk memotret saya maka tanpa diminta, setelah saya mengeluarkan handphone dan celingukan *help me, bahasa Indonesianya apa ini woy?* sepertinya keinginan untuk berfoto itu ditangkap oleh seorang security di sana dan dengan segera beliau menawarkan diri untuk membantu saya mengabadikan moment tersebut, dan..bahagialah saya..*asli narsis*

IMG_20151004_081022
Narsis dulu 
IMG_20151005_091007
Becak terlebar. Pak suami ampe harus bungkuk begitu
IMG_20151005_090939_1444011789488
Me and Quinn
IMG_20151004_081406
Me and Quinn (again)
IMG_20151004_081745
3 Generations

Kesimpulannya, sesuai namanya, Tjokro Style, hotel ini benar-benar memiliki gaya tersendiri, terkonsep dengan baik terutama untuk interiornya,harganya masih ramah di kantong dan pelayanannya memuaskan, oleh karenanya tidak salah jika saya extend hingga 2 malam di sini. FYI kami menginap di sini Oktober 2015.

Oh ya ada sedikit kritik, di lobby ada sesuatu yang kurang pas yaitu penempatan jam ding-dong, yang saya rasa tidak cocok dengan gaya interiornya, memang itu jam ding dong klasik tapi itu tidak terkesan modern retro karena itu terbuat dari kayu jati yang diplitur mengkilap, harusnya menurut saya modelnya memang harus kuno tetapi dibuat dari bahan kayu lain yang dicat dop alias tidak mengkilap dengan warna-warna ceria khas modern retro. *sok jadi interior designer gadungan*

IMG_20151003_182855
Nah itu jam ding-dong yang saya maksud.

Thats all from me, sementara itu dulu review satu hotel yang affordable dan unik di Jogja, wait for the next ya..

See ya,

Anne Lesmana

Share it please, mama ketje.. 🙂Pin on Pinterest0Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Share on Tumblr0

0 Comments

  1. […] penginapan jenisnya kan banyak, seperti yang pernah saya tulis di artikel sebelumnya “Affordable and Unique Hotel in Jogja (Part 1)“,dan ini adalah satunya, yaitu […]

  2. Unik ya aksesoris yang ada di hotel. Udah lama ingin ke Jogja tapi belum terwujud hingga kini 🙁

    1. Iya mbak unik. Semoga segera terwujud ya mbak liburan k jogjanya.. 😊

  3. Menarik, bisa jadi referensi. Trima kasih infonya detail,Mbak 🙂

    1. Hehe sama2 mbak.. Senang kalau bs bermanfaat

  4. interiornya keren bangeeet :O

    1. Iya, asli keren..

  5. wah, tempatnya asik ya Mba

    1. Iya mbak, kapan2 kalau ke Jogja bisa mampir, makasih sdh mampir k blog saya

Leave a Reply

Required fields are marked*