Beauty, Family, Traveling, Uncategorized

Asyiknya jadi konselor sekolah

Sepertinya kangen saya kambuh lagi! Penyebabnya adalah karena baper setelah diWA mantan salah satu kolega saya.

Pada waktu awal menikah, saya masih bekerja sebagai seorang konselor di salah satu sekolah internasional di Surabaya Barat, ah tidak apa-apa barangkali ya kalau saya sebutkan di sini, karena selama saya tidak menceritakan sisi negatif dari tempat saya bekerja dulu, ya tidak ada masalah, singkat kata nama sekolah tersebut adalah Sekolah Ciputra! (mau menyebutkan nama saja pakai panjang begini) *huft*

Menjadi konselor sekolah adalah pekerjaan pertama saya setelah masa penantian sekitar tiga bulan dari sesudah saya dinyatakan lulus dan menggenggam ijazah Sarjana Psikologi Universitas Airlangga. Saya sangat betah bekerja di sana, teman-teman sejawat saya semuanya baik-baik, kooperatif, banyak juga yang seumuran.  Seru sih bekerja di sana, murid-murid saya juga menyenangkan, terkadang saya jadi kangen suasana bekerja di sana, kangen menghabiskan waktu makan siang di kantin atau ruang makan guru bercanda sambil menggosip dengan para kolega.

Saya juga kangen menghabiskan waktu istirahat murid-murid untuk dengerin curhatan mereka atau sekedar ngobrolin center of interest mereka seperti lagu, film, fashion, gosip artis terkini (Indonesia, Holywood dan Korea, tapi saya Korea tidak terlalu mengikuti), ya akhirnya kerjaan saya malah lebih banyak dilakukan pada waktu jam-jam istirahat seperti itu dan juga waktu pulang sekolah sambil menunggu jemputan dari orang tua maupun sopir mereka. Mendengarkan atau mengikuti apa yang menjadi center of interest mereka bikin kita (konselor):

  1. Up to date dengan trend-trend seperti yang saya sebutkan di atas, saya jadi ingat selama bekerja di sana, pengetahuan musik saya sangat berkembang, paling update soal musik-musik terbaru, lumayanlah kalau diajak karaoke jadi punya banyak referensi untuk dinyanyikan, yang mana terkadang yang lain belum pernah dengar, saya sudah menyanyikannya dengan lancar, setidaknya kalau karaoke bareng keluarga, hahaha.. Sekarang? O la..la.. sudah tidak tahu lagi lagu-lagu baru, playlist di handphone juga masih diisi lagu itu-itu saja yang ngetrend sekitar 2-3 tahun yang lalu *sedih*
  2. Berasa awet muda, gimana mau tidak merasa muda kalau lebih sering berbincang dengan anak-anak yang usianya masih belasan, yang melihat dunia rasanya ceria melulu isinya (kalau pas lagi happy sih, tapi kalau kumat galau, rasanya duh.. seperti tidak bisa menyadarkan mereka untuk keluar dari dunia penuh drama rekaan mereka sendiri, haha..), tapi untunglah lebih banyak cerianya daripada galaunya, mungkin karena punya konselor seperti saya..huahahaha.. *narsis*. Tambahan lagi kalau ada murid-murid yang bertingkah dan berbicara konyol (yang tidak masuk di akal) khas anak remaja wah pasti dijamin banyak ngakaknya, banyak ketawa kan bikin awet muda!
  3. Dengan memahami apa yang menjadi point of interest mereka, membuat mereka merasa kita memiliki banyak kesamaan dengan mereka (umur tidak termasuk ya, tapi saya sih tetap merasa kami seumuran *maunya* haha..), maka saya akan dengan mudah memasukkan nilai-nilai yang ingin saya tanamkan atau ingin agar mereka miliki, mereka akan mudah dinasehati (yay..pekerjaan terasa ringan!) Itulah sebenarnya mengapa anak-anak remaja lebih mendengarkan apa yang dikatakan teman-teman mereka dibanding orang tua/ gurunya, orang yang di’rasa’ lebih tua oleh mereka, yang tidak mengerti diri mereka, tidak menyelami dunia mereka.
  4. Kita akan lebih aware atau tahu lebih dulu jika ada sesuatu yang membahayakan mereka. Kenapa bisa begitu? Darimana kita bisa tahu jika ada sesuatu yang membahayakan mereka? Dengan kita menjadi orang yang mereka anggap ‘setara’ atau satu pola pikir, memiliki banyak kesamaan dengan mereka, maka mereka akan dengan mudahnya terbuka kepada kita, menceritakan apapun yang ingin mereka ceritakan kepada kita tanpa memfilternya, layaknya berbicara pada seorang teman. Dari cerita-cerita mereka kita akan tahu apa yang sedang atau bisa mengancam diri mereka yang mungkin tidak mereka sadari, sebelum hal itu terjadi kita bisa menyadarkan mereka akan adanya kemungkinan terjadinya suatu masalah di depan jika mereka tetap melangkah atau melakukan apa yang mereka ceritakan kepada kita. Jika hal itu dapat kita cegah dan berarti tidak ada suatu masalah pada anak para wali murid, terutama yang terjadi atau disebabkan oleh orang-orag di lingkungan sekolah maka dijamin tidak ada orang tua yang komplain, yang mana kerjaan saya berarti juga berkurang! *happy*

Hmm..mungkin beberapa paragraf di atas bisa jadi tips juga buat para orang tua yang sedang memiliki anak yang beranjak remaja atau bahkan sudah memasuki usia remaja, intinya adalah kita harus mencoba memahami mereka, bisa menempatkan diri kapan menjadi ‘teman’ dan kapan menjadi orang tua.

Ya itulah beberapa keuntungan menjadi seorang konselor tapi ada lagi lho yang lebih mengasyikkan, apa itu? Misalnya mendapat jam tangan Alexander Christie di akhir tahun ajaran baru dari seorang wali murid. Saya juga pernah mendapatkan parfum Guerlain Idylle Duet dan sudah dipastikan original ya..(ya iyalah..siapapun yang tahu tentang Sekolah Ciputra pasti juga tahu kalau wali muridnya adalah orang-orang berduit *indikasi menyombongkan diri), parfum Guerlain inilah yang jadi parfum andalan saya kalau pergi ke pesta atau kencan dengan suami, baunya sexy banget kalau menurut saya, makanya saya pakainya irit, hampir tiga tahun saya pakai baru setengahnya aja, apalagi setelah tahu harganya satu juta lebih. Guerlain itu saya dapatkan dari seorang nenek yang penampilannya sangat modis sekali untuk orang seusia beliau setelah saya membantu menyelesaikan masalah cucu kesayangannya yang berselisih paham dengan teman-temannya sampai bikin si cucu tidak mau pergi sekolah. Adalagi lipgloss atau liquid lipstick yang kalau tidak salah tas pembungkusnya bertuliskan merk sephora, cuma satu sih tapi tasnya lumayan besar karena selain itu saya juga diberi beberapa souvenir magnet negara-negara di Eropa, saya waktu itu kurang paham mengenai dunia per’lenongan’, apalagi Sephora sekitar tahun 2012-2013 belum masuk Indonesia jadi saat mama saya bilang “Lipsticknya kok bagus, boleh buat mama aja?”, saya langsung mengiyakan! Coba itu terjadi saat ini saya pasti tidak akan pernah rela diambil oleh mama saya, hehe.. Haizz.. ini tadi ngomongin tentang asyiknya jadi konselor ujung-ujungnya balik lagi ngomongin kosmetik..*maafkan*

Fokus lagi. Makanan dan souvenir setelah liburan ke luar negeri sudah sering saya dapatkan, minimal 3 bulan sekali karena sekolah internasional biasanya banyak liburnya. Murid-murid saya atau orang tua mereka memang hampir selalu membawakan souvenir atau oleh-oleh setelah liburan ke luar negeri, tapi apa yang benar-benar saya inginkan tidak pernah diberi, apa itu? ticket PP jalan-jalan ke luar negerinya yang belum.*ngarep*

Eh tapi jangan salah, memang saya tidak pernah mendapatkan tiket keluar negeri secara langsung dari para wali murid tapi ketika saya menjadi pemandu atau guru pendamping murid-murid saya dalam rangka mengikuti lomba Oxford Youth Education secara tidak langsung mereka membiayai perjalanan, akomodasi dan konsumsi saya ke/dan di UK selama 2 minggu! Aaa..kangennya jadi beranak pinak..kangen pengalaman selama di UK, pengen balik lagi tapi kali ini dengan suami dan anak-anak saya tanpa dibebani masalah pekerjaan, kapan ya?? Doakan secepatnya ya *amin,duit..darimana duitnya??*

Yah begitulah sedikit nostalgia saya tentang pengalaman menyenangkan saya menjadi seorang konselor di salah satu sekolah internasional, kalau ingat-ingat ini jadi pengen balik lagi kerja, kerja di sana atau punya kerjaan yang mirip begitu *pekerjaan apa yang mirip?*, kalau ingat ini membuat saya tidak menyesali atau meratapi diri saya sendiri kenapa dulu tidak mencoba mengejar impian untuk masuk fakultas kedokteran, padahal kalau dipaksakan juga belum tentu lolos, hahaha… Kalaupun lolos dan jadi dokter belum tentu bisa pergi ke UK gratisan begitu. Pergi ke UK sebenarnya keinginan yang telah dipupuk oleh Papa saya sejak saya berusia 2-3th, asli!  Menurut saya itu merupakan suatu bukti dari “The Power of Mind” Kok bisa? Kapan-kapan deh saya ceritanya ya.. Oke, sekarang silahkan tunjuk jari yang mau jadi konselor! Mau jadi konselor? Kelarin dulu kuliahnya ya..terus cari deh lowongan untuk jadi konselor, jangan sampai salah lowongan untuk jadi kontributor atau koruptor lho ya!.. *apasih??

Sekian-Good Night!

Share it please, mama ketje.. 🙂Pin on Pinterest0Share on Facebook0Share on Google+0Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0Share on Tumblr0

8 Comments

  1. I decided to leave a message here on your Asyiknya jadi konselor sekolah – Mama Ketje page instead of calling you. Do you need more likes for your Facebook Fan Page? The more people that LIKE your website and fanpage on Facebook, the more credibility you will have with new visitors. It works the same for Twitter, Instagram and Youtube. When people visit your page and see that you have a lot of followers, they now want to follow you too. They too want to know what all the hype is and why all those people are following you. Get some free likes, followers, and views just for trying this service I found: http://decd.be/nam23DABX

  2. yohana

    wah, pengalaman yag luar biasa ya mbak. Saya sampai senyum2 sendiri baca ceritanya, apalagi waktu dibawain hadiah sama wali murid. Pengen suatu saat jadi guru di sekolah internasional deh.

  3. mantap, siapa sangka ternyata mb.anne seorang psikolog. lain kali boleh share dong mbak soal pengembangan diri…hehehe

    1. Bukan mas, saya cm sarjana psikologi, blom sekolah lg utk ambil psikolog. Fayza tuh mas yg udah bergelar psikolog

  4. sip menarik mbak, yang harus dibawahi adalah soal paragraf biar enak dibaca. paragraf terlalu panjang.

    apalagi isinya agak berat buat saya dan belum tentu buat yang lain. bisa yang lain menilai itu kece…

    salam Mukhofas Al Fikri

    1. Oke Mas.. Makasih masukannya

  5. Luphyta

    Keren euy. Pengalamannya

    1. Hehe.. Makasih sudah mampir n memberi komentar

Leave a Reply

Required fields are marked*